Showing posts with label sapi. Show all posts
Showing posts with label sapi. Show all posts

Wednesday, July 24, 2013

Masa Birahi Ternak Sapi Pedaging

Masa birahi ternak sapi pedaging sama saja dengan masa birahi sapi perah yakni rata-rata padakisaran 21 hari. Bila kita menemukan sapi yang masa birahinya sekitar 19, 20, 22, 23, 24, atau 25 hari maka sapi tersebut termasuk normal. Secara teori  21 hari bukanlah ukuran baku birahi ternak sapi, sebab birahi ternak sapi bisa berbeda-beda karena banyak faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi birahi pada ternak sapi diantaranya:
  1. Kecukupan gizi makanan terutama HMT, semakin kurang gizi seekor sapi maka masa birahinya bisa semakin lama dan tidak teratur. Begitu juga dengan kelebihan pakan (gizi) jika seekor sapi mengalami kelebihan gizi (gemuk) maka birahi pada sapi tersebut bisa tidak terlihat.
  2. Faktor keturunan, biasanya sapi-sapi jenis import seperti Simmental, limousine memiliki masa birahi yang lebih cepat bila dibandingkan dengan sapi jenis lokal (sapi Madura, sapi bali, pesisir, aceh dan lainnya)
  3. Faktor kesehatan, banyak sekali kita temukan sapi yang dipelihara peternak kita saat ini mengalami gangguan kesehatan terutama kesehatan organ reproduksi sapi betina.
  4. Geografis, memang belum ada penelitian yang secara pasti menyatakan bahwa letak geografis suatu wilayah turut mempengaruhi masa birahi seekor sapi. Namun dari kebiasaan bisa kita lihat bahwa sapi yang dipelihara di datarn tinggi cenderung masa birahinya lebih cepat bila dibandingkan dengan sapi yang dipelihara di dataran rendah.

Seekor sapi betina akan dikategorikan sebagai sapi dara setelah sapi tersebut berumur kurang lebih 1,5 tahun. pada saat itu sapi betina akan mengalami birahi pertama, sebaiknya pada birahi pertama sapi jangan dikawinkan dulu baik secara alami maupun inseminasi buatan, tapi biarkan sapi tersebut genap berumur 1,8 tahun baru sapi dara tersebut dikawinkan. Hal ini sangat penting, sebab jika seekor sapi betina dijadikan induk sapi dalam keadaan terlalu muda biasanya anak sapi (pedet) yang dihasilkan kurang baik (kurang sehat), hal ini sudah banyak kita temukan contohnya di lapangan.

Sapi betina bisa diinseminasi walaupun itu merupakan kawin pertama, adanya tanggapan masayarakan atau ketakutan masyarakat menginseminasi sapi yang baru pertama kali kawin hanyalah mitos belaka, sebab sudah sangat banyak sapi yang anak pertamanya adalah hasil dari Inseminasi buatan dan menghasilkan anak sapi yang sehat dan berkualitas.

Demikianlah bahasan singkat tentang masa birahi pada sapi pedaging / potong yang dapat kami bagikan, semoga artikel ini telah menjawab pertanyaan dan permasalahan anda dalam hal reproduksi ternak.

Thursday, February 7, 2013

Manajemen Ternak Sapi Perah

Secara umum tidak ada perbedaan jauh antara manajemen sapi potong dengan sapi perah, hanya saja pada sapi perah ada sedikit tambahan manajemen yang harus diterapkan. Sapi perah baik dipelihara di dataran tinggi, namun tidak tertutup untuk daerah dataran rendah juga. Umumnya sapi perah yang dipelihara di Indonesia adalah sapi jenis FH dan Jersey. Kelebihan kedua jenis sapi ini selain cocok untuk iklim di Indonesia juga memiliki kualitas dan kuantitas susu yang sangat baik.

Sapi perah memiliki sifat yang lebih jinak bila dibandingkan dengan sapi potong, sifat sapi perah yang demikian karena sapi perah lebih sering berhubungan dengan manusia bila dibandingkan dengan sapi potong. Memelihara sapi perah sangat disarankan memperhartikan kebersiahan kandang dan sapi. Kebersihan merupakan faktor utama kualitas susu. Semakin baik kualitas susu maka semakin tinggi nilai jual susu di daerah tersebut.

Berikut ini akan kita buat juga paparan umum tentang dasar-dasar manajemen ternak sapi perah yang baik. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan diantaranya:

  1. Persiapan kandang, kandang sapi perah sebaiknya memiliki sirkulasi udara yang baik, pencahayaan matahari yang cukup. Pada sapi perah cahaya matahari yang kurang bukan menjadi permasalahan, tapi kualitas dari kebersihan kandanglah yang harus diperhatikan secara seksama. Kandang sapi perah sebaiknya dibangun melintang dari timur ke barat atau sebaliknya.
  2. Menanam hijauan makanan ternak, rumput untuk sapi perah harus cukup, sebab sapi akan mengasilkan susu dari rumput yang mereka konsumsi. Rumput yang ditanam juga haruslah rumput unggul seperti rumput gajah, rumput raja dan sejenisnya. Semakin banyak ketersediaan rumput maka semakin terjamin keberhasilan dari ternak sapi perah tersebut.
  3. Memilih pedet atau bibit sapi perah, dalam hal ini peternak harus sangat jeli, kualitas bibit yang baik adalah pedet yang berasal dari hasi perkawinan inseminasi buatan, untuk memastikan ini ada baiknya juga peternak meminta surat (kartu) inseminasi buatan dari penjual pedet tersebut. Harga pedet sapi perah memang jauh lebih mahal dari pedet sapi potong. Umur pedet yang dipilih juga harus cukup minimal diatas 7 bulan. Pedet yang sehat adalah pedet yang lincah dan sudah rakus dalam memakan hijauan makanan ternak.
  4. Pemilihan konsentrat, sebenarnya konsentrat untuk sapi perah hanyalah untuk mendukung kalsium saja, bila peternak memiliki jumlah rumput atau hijauan makanan ternak yang cukup maka konsentrat tidak terlalu diperlukan, adapun yang harus diberikan hanyalah mineral baik dalam bentuk block maupun tepung.
  5. Menyiapkan peralatan kandang terutama peralatan untuk kebersihan kandang, seperti pompa air dan sekop. Kandang sapi perah harus benar-benar bersih, karena susu yang baik berasal dari sapi dan kandang yang bersih. Kotornya kandang sering kali membuat susu terkontaminasi bakteri atau minimal terkontaminasi rusaknya aroma susu. Susu yang terlalu bau kandang adalah susu yang kurang baik dan kurang disukai masyarakat.
  6. Setelah rumput berumur sebulan peternak sudah dapat memasukkan peder, berbeda dengan sapi potong jumlah hijauan makanan ternak untuk sapi perah ini sangat dianjurkan dalam jumlah yang banyak, kalau bisa luasnya 100M2 per ekor sapi. Sebab sapi perah akan diasuh selama 8 tahun (masa produksi susu yang baik)
  7. Setiap hari kebersihan kandang dan sapi harus dikontrol, mengenai pertambahan berat badan hanya perlu diperhatikan saat sapi menjelang dewasa saja. Bial sudah berproduksi maka kontrol pertambahan berat badan tidak terlalu dibutuhkan.
  8. Kesehatan selalu diperhatikan, sapi yang sakit akan mengalami penurunan produksi susu bahkan bisa berhenti menghasilkan susu.


Dengan harga susu yang tinggi saat ini, maka dapat dikatakan usaha sapi perah ini salah satu usaha yang sangat menghasilnkan. Di daerah yang telah berdiri koperasi susu serta pabrik pengolahan susu biasanya masyarakat secara perlahan akan menjadikan usaha ternak sapi perah sebagai usaha utama.

Wednesday, February 6, 2013

Manajemen Ternak Sapi Potong

Di tulisan sebelumnya kita sudah menjelaskan bahwa ternak sapi dapat dibagi menjadi 3 berdasarkan kegunaannya yakni; sapi potong, sapi perah dan pekerja. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas dasaar-dasar manajemen pada ternak sapi potong. Manajemen adalah seni mengelola dan mengembangkan. Jadi manajemen ternak sapi potong dapat diartikan sebagai seni mengelola dan mengembangkan ternak sapi potong atau pedaging. Secara sederhana masyarakat peternak pada umumnya sudah menerapkan manajemen ternak tersebut secara tradisional dan berdasarkan ilmu turun temurun

Dalam sebuah manajemen selalu ada langkah-langkah atau tahapan-tahapan, begitu juga dengan manajemen ternak sapi potong ini didalamnya ada beberapa tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh peternak agar dapat berhasil dan memperoleh keuntungan dari usaha peternakan mereka. Berikut ini tahapan-tahapan manajemen tersebut:

  1. Pembangunan kandang yang sesuai untuk sapi potong, kandang sapi potong yang baik adalah kandang yang memiliki sirkulasi udara yang cukup serta daya serap cahaya matahari yang tepat. Kandang sapi porong sebaknya dibangun melintang dari utara keselatan atau sebaliknya agar seluruh kandang terkena cahaya matahari secara merata. Perhatikan juga arah angina dominant ini untuk mengantisipasi masuknya hujan kedalam kandang.
  2. Pemilihan bibit sapi potong yang baik dan bermutu, kualitas bibit sangat menentukan keberhasilan dari usaha sapi potong, bibit ini sering juga disebut dengan pedet. Pedet sapi potong yang dibeli harus benar-benar telah disapih secara sempurna umur pedet tersebut minimal 7 bulan, kalau saya malah sangat menganjurkan umur diatas 9 bulan. Ini agar sapi tidak kekurangan air susu induknya. Bila sapi potong kekurangan susu induk dapat dipastikan sapi tersebut akan mengalami gangguan kesehatan dan lambatnya perkembangan tulang dan daging.
  3. Menanam hijauan makanan ternak yang berkualitas, hijauan yang berkualitas adalah rumput yang memang khusus dikembangkan untuk makanan sapi potong, diantara rumput tersebut adalah rumput gajah dan king grass. Bibit rumput ini dapat anda ambil atau minta ke dinas peternakan setempat. Rumput ini sering disebut dengan hijauan makanan ternak. Luas rumput uang ditanam harus disesuaikan dengan jumlah sapi yang akan dipelihara.
  4. Menyiapkan kosnsentrat dan ransom yang sesuai dengan daerah tinggal, jika di daerah kita tinggal banyak dedak maka gunakan ransum dengan komposisi utama dari dedak, jika di daerah kita yang banyak adalah ubi kayu maka sebaiknya seiapkan ransum dari kulit ubi kayu, pelajari cara membuat konsentrat tesebut dengan baik.
  5. Menyiapkan peralatan, terutama peralatan untuk mengchopper (mencincang rumput) dan peralatan kebersihan kandang.
  6. Setelah rumput yang ditanam berumur satu bulan maka anak sapi sudah bisa dibeli dan dimasukkan ke kandang.
  7. Pada masa pemeliharaan selalu kontrol perkembangan anak sapi menyangkut pertambahan tinggi panjang dan berat badan sapi. Hal ini agar kita dapat menentukan pakan yang tepat.
  8. Selain perkembangan juga selalu periksa kesehatan sapi yang kita pelihara, cirri-ciri dasar sapi sakit diantaranya: bulu berdiri, mata sayu, hidung atau mulut melelehkan lender, dan tidak ada nafsu makan. Jika gejala ini ditemukan salah satunya segera hubungi petugas kesehatan hewan.
  9. Sapi potong/ pedaging yang baik adalah sapi potong yang pertambahan berat badannya lebih dari 0,5 Kg per hari. Dengan asumsi harga daging hidup Rp 40.000 maka kita memperoleh Rp. 20.000 per ekor sapi.


Manajemen diatas hanyalah secara garis besar sajasedangkan secara khusus tentang tiap tiap sub manajemen akan dibahas pada post yang akan dating. Prinsipnya jangan pernah takut untuk memulai usaha sapi potong ini, di sekitar kita pasti pernah kita lihat peternak sapi potong yang jarang merugi dalam usaha mereka.

Tuesday, February 5, 2013

Ternak Sapi

Populasi ternak sapi di Indonesia cukup besar, namun populasi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia akan daging sapi. Besarnya jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa mengakibatkan ketersediaan daging sapi terasa kurang sepanjang tahun, padahal perilaku konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging sap ibis dikategorikan rendah bila dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika serikat. Untuk itu masyarakat sebagai pelaku bisnis perlu memikirkan tentang peluang usha beternak sapi yang terbuka sangat lebar di Indonesia.

Metode beternak sapi yang baik adalah peternakan yang menerapkan metode dan manajemen ternak sesuai dengan ajuran pemerintah. Dalam dunia peternakan dikenal sebuah slogan panca usaha ternak dan dilengkapi dengan sapta usaha ternak. Bila semua butir-butir yang tercantum didalamnya dilaksanakan secara intensif tentu hasil yang didapatkan oleh peternak sapi akan lebih maksimal. Adapun diantara butir-butir sapta usaha ternak tersebut:
- pemilihan bibit yang baik (unggul)
- manajemen usaha ternak yang modern
- penanganan penyakit
- penjualan (penanganan pasca panen)

Untuk ternak sapi bibit unggul sudah seharusnya menjadi perhatian utama bagi peternak. Bibit unggul bukan berarti harus mengusahakna bibit sapi luar negeri seperti Simmental ataupun limousine, Ongole atau Brahman dan juga beberpa varian sapi lokal seperti madura dan sapi bali dapat diusahakan kualitas bibit ungulnya. Sebab saat ini dengan metode inseminasi buatan (artificial insemination) peternak sudah dapat memilih pejantan unggul yang akan mereka pelihara keturunannya.

Berikut ini beberapa jenis sapi unggul yang sudah ada dan dikembang biakkan di Indonesia:
- Simmental
- Limosine
- Charolise
- Angus
- Brangus
- Ongole
- Brahman
- Bali
- Madura

Semua yang disebutkan diatas adalah jenis sapi tipe pedaging. Dan dibawah ini beberpa jenis sapi perah:
- FH (fries Holland)/ Holstein
- Ayshire
- Brown Swiss
- Guernsey
- Jersey
- Sahiwal
- Red sindhi
- Gir

Di Indonesia jenis sapi perah yang umum dan banyak dipelihara adalah Holstein atau Fries Holland serta jenis jersey. Pada dasarnya sapi perah lebih cocok dipelihara di daerah pegunungan yang bersuhu dingin. Namun berkat teknologi sekarang ini sudah memungkinkan untuk memelihara sapi perah di daerah manapun.

Perbedaan antara sapi perah dengan sapi pedaging dapat dilihat dari postur sapi tersebut, sapi perah umumnya badannya berbentuk segitiga dan sapi pedaging yang baik badannya berbentuk persegi panjang. Ransum untuk sapi perah dan sapi pedaging umumya tidak berbeda secara nyata, hanya saja untuk sapi perah biasanya pemberian konsentratnya lebih banyak bila dibandingkan dengan pemberian konsentrat pada sapi pedanging.

Manajemen pemeliharaan pada sapi potong dan sapi perah umumnya tidak jauh berbeda, perbedaan hanya terdapat pada pengelolaan produksi, dimana sapi perah produksi secara terus menerus selama sapi perah tersebut masih produktif menghasilkan susu sedangkan produksi sapi pedaging dapat diperoleh secara sekaligus pada saat penjualan hewan ternak tersebut.

Struktur kandang yang baik untuk sapi perah dan sapi pedaging bila dikelola secara tradisional maka tidak akan kita lihat perbedaan dari bentuk kandang tersebut, namun pada manajemen ternak modern jelas terlihat perbedaan dari kandang tersebut. Di Indonesia kebanyakan masyarakat memelihara ternak secara tradisional, hal ini mungkin karena masih kurangnya informasi inovasi yang mereka terima, adapun manajemen ternak modern hanyalah diterapkan perusahaan-perusahaan besar yang memiliki cukup modal serta memahami arti efisiensi dalam usaha peternakan ini.

Perbedaan sapi potong dengan sapi perah.

Pada kajian sebelumnya kita sudah membahas tentang jenis-jenis sapi serta sekilas tentang manajemen ternak sapi prah dan pedaging. Bahasan kali ini akan memperjelas perbedaan antara sapi perah dan sapi potong, baik secara jenis dan bentuk tubuh juga dari segi manajemen dan ekonomis penjualan dari produksi sapi tersebut.